SUDAHKAH IMAN ANDA DIUJI ???

By -

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون   (2)  ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين (3)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut: 2-3)

Anda beriman? Jika iya, maka bersyukurlah kepada Allah Subhanahuwata’ala, karena Anda termasuk diantara hamba-hambaNya yang terpilih. Namun Anda harus sadari, bahwa keimanan yang menghunjam di dada Anda itu pasti akan ada konsekwensi dan taruhannya, itulah roda sunatullah yang akan senantiasa beputar,[1] semenjak diciptakannya Adam alaihissalam hingga manusia yang akan hidup kelak di akhir zaman; keislaman Anda akan diuji, keimanan Anda tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ada ujian.

Jika memang ini adalah sunatullah yang akan selalu berlaku, maka Anda siapkanlah jiwa Anda untuk menerima itu semua. Teguhkan jiwa Anda untuk menghadapi ombak yang akan menghantam dan mengguncang iman Anda, kokohkan pijakan Anda untuk menghadapi badai yang akan menerpa dan mengancam iman Anda. Siap untuk disakiti, dihina dan dicaci maki. Jangan merasa kecil hati jika itu semua menimpa Anda, karena saudara Anda yang beriman juga akan merasakan seperti yang Anda rasakan, hanya saja mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya; ada yang lebih ringan dari Anda, namun Ada juga yang ujiannya lebih berat dari pada  ujian yang Anda alami, tentunya semuanya akan seimbang dengan kadar dan kualitas iman yang ada di setiap jiwa.

Dengan demikian para Nabi adalah hamba-hamba Allah yang paling berat cobaannya, paling banyak rintangan dan tantangannya, sebab keimanan mereka begitu menghunjam di dada-dada mereka. Berikutnya orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak mereka dan istiqomah di atas jalan itu, sebagaimana Rasulullah Shollallohu’alaihiwasalam  bersabda;

أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِ رِقَّة اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ.

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka kemudian berikutnya. Seorang itu akan diuji berdasarkan agamanya, jika agamanya kuat maka cobaanya akan semakin kuat, jika agamanya masih lemah, ia pun akan diuji sesuai dengan kadar agamanya.[2]

Jadi janganlah Anda berpikir ketika Anda beriman, ketika Andas berusaha untuk menempuh jalan Nabi dan Shahabatnya Anda akan terlepas dari ujian dan cobaan, justru sunatullah yang berlaku adalah sebaliknya, ketika Anda berusaha untuk beragama dengan cara yang paling benar, maka ujian dan cobaan siap menghadang Anda, semakin kuat agama Anda, semakin besar ujian yang akan Anda hadapi.

Jangan Anda kira bahwa jalan menuju surga itu lurus dan mulus tanpa ada aral rintangan yang menghalangi. Coba anda renungi ayat berikut ini;

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran : 142)

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم البأساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين آمنوا معه متى نصر الله ألا إن نصر الله قريب

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah : 214)

Inilah jalan menuju surga, Anda harus bermujahadah, sungguh-sungguh dan tegar dalam beragama, sebab iman Anda akan diuji; mungkin dengan kefakiran, kesengsaraan, mengalami sebuah masa-masa kesulitan, atau apa saja yang tidak disukuai oleh jiwa Anda. Jika Anda tetap bersabar di atas agama yang benar itu, dan Anda tidak pernah peduli dengan gangguan-gangguan yang menyapa Anda, maka Anda termasuk orang yang tulus dalam menjalankan agama yang benar ini, dan kebahagiaan akan menanti Anda.

Pembaca yang budiman, inilah yang dialami oleh para shahabat y, terlebih di awal munculnya dakwah islam, ketika mereka beriman dan berpegang dengan agama yang benar ini, mereka disiksa dan dihinakan, bahkan nyawa mereka menjadi taruhan untuk mempertahankan keimanan mereka, Anda tentunya ingat sosok shahabat yang bernama Bilal bin Rabbah Rodhiyallohu’anhu, Khabab bin Al Arats, Yasir Rodhiyallohu’anhu  beserta keluarganya; mereka relakan nyawa melayang demi mempertahankan iman yang telah singgah di dada mereka.

Orang-orang sebelum umat Muhammad pun mengalami cobaan ketika mereka istiqomah di atas jalan yang benar, bahkan cobaan mereka begitu keras dan berat. Hal ini pernah disabadakan oleh Nabi Shollallohu’alaihiwasalam ketika salah satu shahabatnya yang bernama Khabbab bin Al Arat mengadu atas cobaan yang mereka alami saat itu, ia berkata; ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?’ maka beliau bersabda; “Sungguh sebelum kalian ada orang yang digalikan lubang untuknya, lalu ia dimasukkan ke dalam lubang itu, lantas didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, sehingga kepalanya terbelah menjadi dua, namun hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk mempertahankan agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga daging dan uratnya terpisah dari tulangnya, namun semua siksaan itu tidak memalingkannya dari agamanya, demi Allah, perkara ini akan sempurna sehingga seorang pengendara bisa berjalan dari Shan’a hingga Hadramaut, dan ia tidak khawatir selain kepada Allah dan srigala yang akan menerkam kambingnya, namun kalian tergesa-gesa.”[3]

Namun ketika Anda konsisten dengan ajaran agama yang benar, kemudian setelah itu Anda mendapatkan gangguan dari manusia dan lingkungan Anda, atau Anda ditimpa dengan musibah yang sangat berat untuk diterima, lantas Anda merasa bahwa Allah sedang menyiksa Anda, sehingga semua itu menyebabkan Anda berpaling dari ajaran agama yang benar, dan menbelokkan dari jalan kebenaran yang sedang Anda tempuh, maka keimanan yang ada di dada Anda belum tulus seutuhnya.

Silahkan Anda bertanya kepada diri Anda; sudahkan cobaan itu menyapa Anda? jika belum, coba Anda tengok hati Anda, coba Anda renungkan jalan kehidupan seperti apa yang sedang anda tempuh saat ini. jika cobaan itu sudah menyapa Anda, lantas apa pengaruh coban itu terhadap jiwa Anda, apakah cobaan itu Anda rasakan seperti adzab dari Allah, sehingga Anda berpaling meninggalkan jalan kebenaran? ataukah Anda termasuk orang yang sabar dalam menghadapi cobaan, karena Anda menyadari bahwa keimanan Anda sedang diuji oleh Dzat Yang Maha Kuasa?

Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar ketika menerima cobaan dan ujian, bahkan senang dengan cobaan yang sedang kita alami, karena kita sadar bahwa keimanan kita sedang mengalami fase peningkatan ke yang lebih tinggi dan lebih baik. Tapi Anda harus fahami, bahwa cobaan itu tidak mesti suatu hal membuat Anda sempit dan susah, bisa jadi cobaan itu berupa perkara yang menyenangkan jiwa Anda, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al Jauzi, “Allah terkadang menguji hambaNya dengan suatu kenikmatan sebagaiman Ia mengujinya dengan musibah.”[4] Wallahu ta’ala A’lam bish Shawab.

 

Ditulis oleh: Ust. Khairi Assalaky (Staff Pengajar PP Islam Al Irsyad)

Maraji’

ü  Al Quranul Karim

ü  Fathul Bari, Ibnu Hajar Al ‘Asyqalani, cetakan ke-dua, 1421H/ 2000M, Maktabah Darus Salam, Riyadh.

ü  Ijtima’ul Juyusy, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Cetakan pertama, 1404H/ 1984M, Darul Kutub Al Ilmiyyah, Beirut.

ü  Shahih Al Bukhari, Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Cetakan pertama, 1407H/1987, Darusy Sya’b, Kairo.

ü  Silsilah Ashsahihah, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabatul Ma’arif, Riyadh.

ü  Tafsir As Sa’di, Taisirul Karimur Rahman Fi Tafsiri Kalamil Mannan, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, cetakan 1423H/ 2003M, Jam’iatu Ihyaut Turats Al Islami, Kuwait.

ü  Tafsir Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, 1421H/ 2000M, Muassasatu Qurthubah, Jizah.

 



[1] . Lihat. Tafsir As Sa’di, hal. 872.

[2] . Diturunkan  oleh At Tirmidzi (2/64), Ibnu Majah (4023), Ad Darimi (2/320), dinyatakan hasan oleh syeikh Al Albani. (Silsilah As Shahihah, 1/273)

[3] . Shahih Bukhari 3612

[4] . Ijtima’ul Juyusy hal. 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *