KEMULIAAN AKHLAK ADALAH TIMBANGAN PALING BERAT DI DALAM MIZAN

By -

Rosululloh Shollallohu’alaihi wasalam yang tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, yang telah diberikan perkataan-perkataan yang sempurna telah menjelaskan kepada kita, bahwa amalan yang paling berat di dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat adalah Akhlak yang mulia, beliau Shollallohu’alaihi wasalam bersabda:

“مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ.”

“Tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat nanti daripada akhlak yang mulia. Sesungguhnya Allah sungguh membenci orang yang berkata kotor lagi jahat.”[1]

Alloh Subhanahuwata’ala juga telah memuji rosul-Nya Muhammad Shollallohu’alaihi wasalam, Allah berfirman:

((وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ))

((Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.))[2]

Anas bin Malik Rodhiayallohu’anhu berkata: “Rosululloh Shollallohu’alaihi wasalam adalah orang yang paling mulia akhlaknya.”[3]

Jika kita ingin mengetahui bagaimana akhlak Nabi Shollallohu’alaihi wasalam, maka Aisyah Rodhiayallohu’anhu telah menjawab tentang pertanyaan itu, beliau berkata: “Akhlak beliau Shollallohu’alaihi wasalam adalah Al Qur’an.”[4]

Sesungguhnya berdakwah kepada kemulian-kemuliaan akhlak merupakan salah satu tujuan terpenting diutusnya Rosululloh Shollallohu’alaihi wasalam, beliau Shollallohu’alaihi wasalam bersabda:

“إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ.”

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulian akhlak.”[5]

Pertama kali yang kita harus ketahui, bahwa setiap amalan yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Alloh Subhanahuwata’alaharus diiringi dengan memohon pertolongan kepada Alloh Subhanahuwata’alauntuk diberikan petunjuk di dalam melaksanakan amalan tersebut. Karena manusia dengan daya dan kekuatannya tidak akan dapat mengerjakan sesuatu apapun dan tidak akan mendapatkan petunjuk sedikitpun. Karena segala sesuatu terjadi karena daya, kekuatan, dan petunjuk dari Allah U. Alloh Subhanahuwata’alatelah mengabarkan hal itu kepada kita di dalam firman-Nya:

((مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا))

((Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.))[6] Alloh Subhanahuwata’alaberfirman:

((وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ))

((Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali.))[7]

Akan tetapi kita harus perhatikan, siapa yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa yang berhak mendapatkan hidayah?

Bagi orang yang ingin mendapatkannya, dia harus mulai berjalan di atas jalan istiqomah sambil memohon pertolongan kepada Allah U, maka dia akan mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah U. Hal ini telah disebutkan secara jelas dalam firman Allah U:

((فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى * وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى))

((Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[8], serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.))[9] Alloh Subhanahuwata’alajuga berfirman:

((اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ))

((Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).))[10]

Dari ayat-ayat tersebut di atas, jelaslah bahwa seorang hamba yang ingin mendapatkan petunjuk harus mulai berjalan di atas jalan hidayah. Itulah manhaj (prinsip) para rosul yang mulia. Alloh Subhanahuwata’alaberfirman tentang nabi Musa u:

((وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى))

((Dan Aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.))[11] Hal itu juga telah disebutkan secara jelas di dalam hadits qudsy, Alloh Subhanahuwata’alaberfirman:

))يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ.((

“Wahai hamba-hamba-Ku, masing-masing kalian adalah sesat kecuali orang yang aku telah berikan pentunjuk kepadanya. Maka, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian.”[12]

Oleh karena itu, apabila kita ingin membentuk kemuliakan akhlak, wajib atas kita untuk memulainya dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahuwata’ala. Kita memiliki tauladan yang baik dalam pribadi Rosululloh Shollallohu’alaihi wasalam yang beliau adalah sebaik-baiknya makhluk. Beliau Shollallohu’alaihi wasalam telah memohon kepada Allah untuk dimuliakan akhlaknya, beliau Shollallohu’alaihi wasalam berdoa:

“اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي.”

“Ya Allah, Engkau telah memuliakan penciptaanku, maka muliakanlah akhlakku.”[13] Beliau Shollallohu’alaihi wasalam juga selalu berdoa:

“وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ.”

“Dan berilah aku petunjuk untuk akhlak yang paling mulia (karena) tidak ada yang menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk (karena) tidak ada yang bisa menghindarkan aku darinya kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu. Seluruh kebaikan hanya ada pada kedua tangan-Mu. Keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu. Aku (memohon) kepada-Mu. Aku (kembali) kepada-Mu. Engkau Mahaberkah lagi Maha-tinggi.”[14]

Jadi, wajib atas kita untuk memohon kepada Allah Subhanahuwata’ala, berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya agar Allah memberikan petunjuk bagi kita untuk menuju kemuliaan akhlak.

Diterjemahkan dari kitab Ath Thariiq Ilaa Husni Al Khuluq (Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al Ansyariyyah Hafizhahallah)
Oleh Ust. Abu Khansa Suharlan, Lc (Mudir ‘Aliyah PP Al Irsyad Tengaran Salatiga)

[1]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmdzi (4/2002) dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albany dalam kitab Shahiih Al Jaami’ no. 5632 dari Abu Darda Rodhiayallohu’anhu.

[2]. Al Qalam : 4.

[3]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori no. 6203. Imam Muslim no. 2150.

[4]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 24080, 24774, 25285.

[5]. Hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad no. 8729 dan Imam Al-Bukhori dalam Al Adab Al Mufrad no. 273.

[6]. Al Kahfi : 17.

[7]. Huud : 88.

[8]. yang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.

[9]. Al Lail : 5 – 10.

[10]. Asy Syuura : 13.

[11]. Thaahaa : 84..

[12]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Imam Muslim no. 2577 dari Abu Dzar Rodhiayallohu’anhu.

[13]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no. 23871, 24695 dari Aisyah Rodhiayallohu’anhu.

[14]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 771 dari Ali bin Abu Thalib Rodhiayallohu’anhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *